spacer.png, 0 kB
Buat anggota DTC yang mau memperpanjang keanggotaan IMI, atau ingin mendaftar baru jadi anggota IMI, dimohon untuk menghubungi Subhan (DTC-125) atau Rio Octaviano (DTC-136)
 

spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
My-DTC arrow My-Articles arrow Otomotif Umum arrow Berkendara Saat Hujan
Berkendara Saat Hujan PDF Print E-mail
Written by Sudjarwo Priyono   
Monday, 22 January 2007

foto: kompas Tulisan ini disadur dari Kompas, Nopember 2002. Namun masih relevan dengan situasi yang kita hadapi sekarang ini. Bagaimana kita mempersiapkan mobil untuk menerjang hujan? Bagaimana juga saat musim hujan begini kita harus melakukan perjalanan jauh menggunakan kendaraan roda empat?

Ada beberapa komponen yang perlu menjadi perhatian kita. Misalnya lampu dan ban. Hal lain apa yang perlu dicek?

Oke, mari kita mulai dari Lampu

    Fungsi lampu tak kalah penting dengan bagian kendaraan yang lain. Terlebih di malam hari, lampu utama (head lamp) bagaikan mata dalam kehidupan sehari-hari kita. Bisa juga sebagai tanda buat pengendara lain agar mengerti maksud yang akan kita lakukan. Dengan mengedim, misalnya saat mau minta jalan. Sedangkan lampu lain berfungsi tak kalah pentingnya, misal untuk memberitahukan maksud kita saat akan berbelok atau sedang mengerem.

Bagaimana memilih lampu dan arah sinar?

    Ada bermacam-macam jenis lampu yang beredar dengan karakteristiknya masing-masing. Untuk itu, perlu dipilih jenis lampu yang cocok dan sesuai kondisi dan keperluan kita. Misalkan saja untuk pemakaian dalam kota, gunakan yang jangkauan sinarnya sedang dengan sebaran sinarnya lebar dan berwarna putih atau kebiru-biruan (bluish). Ada banyak alternatif lampu jenis ini, seperti H4 Philips Blue Vision, 60/55W-12V.

    Sedangkan untuk menempuh perjalanan jarak jauh atau ke luar kota (yang dilakukan pada malam hari) lebih baik gunakan lampu yang memiliki sinar berwarna kuning dengan jangkauan sinarnya panjang tetapi sebaran sinarnya sedang saja - seperti Osram 62230All 100/80W. Guna menghadapi musim hujan, maka perlu tambahan lampu kabut yang berfungsi untuk menembus kabut ataupun hujan. Lampu ini harus mempunyai tombol tersendiri, sehingga bisa berfungsi secara terpisah. Jenis lampu ini juga banyak terdapat di pasaran, seperti Hella Bulb H3 12V55W. Sinar lampu ini tak selalu berwarna kuning, sedang efeknya bergantung dari jangkauan sinar yang dihasilkan, bentuk, serta ukuran reflektornya.

    Bagi sebagian orang, lampu yang jangkauannya lebih jauh dan arahnya tepat di tengah mobil merupakan posisi ideal. Akan tetapi sepertinya kita kurang bertenggang rasa dengan pengemudi lain yang datang dari arah berlawanan. Pada posisi seperti itu, arah sinar lampu akan menyilaukan. Sebenarnya arah sinar yang ideal adalah yang sedikit lebih terfokus ke arah kiri (untuk sistem kemudi kanan). Jadi, jangkauan penerangan ke arah kiri harus lebih jauh dibanding sebelah kanan, karena yang harus lebih diperhatikan adalah kondisi jalan sebelah kiri. Sebagian besar benda yang dapat menjadi halangan pengemudi berada di sebelah kiri mobil. Contohnya pejalan kaki, sepeda motor, rambu-rambu, dan sebagainya. Sedang yang berada di tengah atau kanan adalah kendaraan yang berlawanan arah, tentu saja mempunyai lampu tersendiri. 

Bagaimana perawatan dan apa saja yang menjadi masalah? 

    Masalah memang bisa terjadi kapan saja. Misal, sinar lampu tak seterang yang kita inginkan atau tiba-tiba saja putus. Kebanyakan hal itu bisa terjadi karena kurang perawatan atau kita tidak mengerti cara memasang lampu mobil kita. Saat memasang lampu (terutama jenis halogen), bisa saja tanpa kita sadari tangan memegang langsung tabung lampu tersebut. Pada saat lampu menyala, kotoran atau minyak (lemak) dari tangan kita akan membuat gas yang ada di dalam tabung terkonsentrasi di satu bagian. Akibatnya, panas yang timbul di sekitar permukaan tabung tidak merata, dan dalam beberapa waktu dapat membuat tabungnya tak tahan hingga pecah. Agar umur lampu lebih panjang, pastikan kebersihan tabungnya dari kotoran (baik itu minyak, garam, atau debu).

    Kotoran yang menempel pada tabung dapat membuat sinar lampu menjadi redup dan tidak fokus. Jika berlangsung terus menerus tak tertutup kemungkinan lampu akan putus/pecah. Jadi, harus selalu rutin memeriksa seal atau penutup rumah lampu di kap mesin mobil, untuk menjaga jangan sampai ia terbuka, sobek, atau retak hingga menyebabkan kotoran dan air masuk.

   Sebelum memulai perjalanan, sebaiknya kita selalu membawa dan melengkapi tool kits kendaraan kita seperti kunci-kunci, segi tiga pengaman, kotak obat, serta peralatan yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang sedang terjadi. Di musim hujan, sebaiknya membawa senter, payung, jas hujan, WD40, dan sebagainya. Kadang perlu pula benda-benda yang kelihatannya sepele sebagai peralatan darurat (contoh selotip, cutter, karet gelang, korek api) yang sering dilupakan orang. Tak kalah penting membawa cadangan lampu, sekering, serta ban.

    Terakhir, perjalanan jauh selalu menguras tenaga dan konsentrasi kita. Jadi, sebaiknya sebelum melakukan perjalanan usahakan istirahat yang cukup. Bagi sebagian orang, ada baiknya minum kopi atau minum tonik penambah tenaga. Dengan beberapa persiapan, perawatan, dan antisipasi akan kemungkinan terburuk, diharapkan selama perjalanan tak akan menghadapi masalah serius yang akan mengganggu dan membuat perjalanan kita jadi tak nyaman. Paling tidak dapat menekan hal-hal yang tidak kita inginkan.     

Bagaimana dengan kondisi Ban?

    Untuk perjalanan jarak jauh, kondisi ban harus menjadi perhatian utama. Kadang orang lalai akan kondisi ban. Tekanan angin saja kadang lupa dicek. Mereka berpikiran, asal mesin tokcer, permasalahan selesai. Padahal permasalahan tidak berhenti di sini saja. Mesin justru tidak memiliki risiko tertinggi dalam penyebab terjadinya kecelakaan. Justru kondisi ban yang menjadi musuh terbesar penyebab kecelakaan. Perlu bukti? Kalau Anda perhatikan di jalan tol, ada papan informasi yang memberikan data bagaimana kecelakaan terbesar disebabkan karena pecah ban. Peringkat kedua, barulah kelalaian pengemudi dan diikuti beberapa faktor teknis lainnya. Jadi, kesimpulannya,  periksa ban Anda sebelum melakukan perjalanan jauh menggunakan mobil.

    Bila memang kondisi ban Anda sudah tidak memadai, disarankan untuk segera menggantinya. Jangan asal beli. Pilih ban sesuai dengan peruntukannya. Paling aman mengikuti spesifikasi standar pabrik. Bila pun Anda ingin mengubahnya, sesuaikan dengan karakter mobil Anda. Pahami karakter ban termasuk soal penentuan pola tapaknya. Berikut enam  spesifikasi umum pola tapak ban.

1. Rib
    Pola tapak didominasi oleh beberapa alur yang melingkari ban. Dari pola seperti ini terdapat beberapa keuntungan seperti rendahnya rolling resistance. Artinya ban mampu menggelinding relatif jauh dari pola lainnya. Stabilitas dan pengendalian arah belok juga terbilang baik. Ini berkat adanya tahanan lateral yang ditimbulkan pola tersebut. Bentuk Rib ini juga cocok untuk kecepatan tinggi karena tingkat panas yang ditimbulkan rendah. Kelemahannya terjadi saat pengereman dan berakselerasi di jalan basah. Desain seperti ini baik digunakan pada jalan beraspal, khususnya untuk kendaraan seperti truk dan bus ataupun kendaraan niaga.

2. Lug
    Bila alur Rib mengelilingi ban, pola alur Lug justru tegak lurus dengan pola pertama. Keuntungan dari pola ini juga kebalikan dari Rib, baik dalam pengereman dan traksi. Kelemahan terbesarnya adalah kebisingan yang ditimbulkan saat melaju kencang. Rolling resistance-nya juga tinggi. Ban ini cocok diaplikasikan untuk jalan tanah, mobil berpenggerak roda belakang, seperti kendaraan proyek.

3. Rib-Lug
    Dari namanya sudah dapat diketahui, bahwa pola ini merupakan perpaduan antara desain Rib-Lug. Rib diposisikan di bagian tengah sementara Lug di sisi ban. Desain Rib memberikan akses kemudahan dalam pengendalian arah kemudi, sementara Lug baik dalam sisi pengereman ataupun traksi ketika mobil mulai berjalan. Keuntungan dan kekurangannya juga perpaduan dari dua tipe di atas. Begitu pula dengan mobil yang pantas menggunakannya.

4. Block
    Desain ini mencakup pola block yang mengelilingi ban dan dipisahkan oleh alur yang lateral. Tipe ini memberikan respon yang baik di sisi pengendalian dan stabilitas di jalan basah (termasuk salju). Namun karena banyaknya block kecil yang ada, menyebabkan beban putar ban tersebut berat. Kendaraan yang cocok menggunakan ban seperti ini adalah tipe sedan (passenger car), terlebih mobil yang berpenggerak roda belakang. Tipe ini biasa disebut pula dengan tipe segala musim.

5. Asymmatric
    Tipe yang satu ini agak berbeda dengan yang lainnya. Tidak ada lagi kesamaan antara pola di sisi kiri dan kanan. Pola seperti ini dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan pada kondisi jalan kering ataupun basah. Khususnya pada saat menikung dalam kecepatan kencang. Kontak area di bagian luar ban jadi makin optimal. Aplikasinya lebih diperuntukkan untuk mobil performa tinggi ataupun mobil balap.

6. Directional
    Karateristik ban ini memiliki alur-alur lateral pada sisinya dengan arah yang sama dan simetris. Keunggulan tapak directional adalah baik dalam kondisi driving force dan pengereman. Selain itu alur yang ada memberi akses bagi air untuk keluar dari area ban lebih cepat. Artinya stabilitas di jalan basah bisa dicapai relatif lebih sempurna. Jangan salah memasang ban ini, sesuaikan dengan arah yang sudah ditentukan. Ban ini sangat baik untuk mobil penumpang ataupun mobil untuk kecepatan tinggi.

Terakhir, periksa sebelum menyesal!

  1. Jangan menggunakan ban yang kedalaman tread-nya kurang dari 1,6 mm.
  2. Pastikan tekanan angin sesuai dengan ketentuan yang berlaku (speksifikasi).
  3. Bila ban memang rusak jangan paksakan untuk dipakai.
  4. Pastikan ban cadangan dalam kondisi baik.
  5. Jangan memasang ban radial dalam sumbu yang sama dengan ban non-radial. Atau jangan menempatkan ban radial di sumbu depan, sementara ban non-radial di belakang.
  6. Pastikan baut roda kencang sesuai kebutuhan.
  7. Jangan membawa beban melebihi kapasitas yang disarankan.
  8. Jangan menggunakan deterjen atau bahan kimia yang mengandung minyak untuk membersihkan atau memoles ban.
  9. Hindari jalan rusak.
  10. Jangan menggunakan ban bekas kecuali telah diketahui asal muasalnya
Last Updated ( Wednesday, 14 February 2007 )
 
< Prev   Next >
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB
spacer.png, 0 kB